Langsung ke konten utama

Big Dreamer?


Yes, I’m a big dreamer. Aku adalah seseorang yang sangat suka bermimpi, mengkhayal,dll. Ada di saat saat tertentu rasanya ingin sekali berbagi cerita tentang mimpiku ini, tapi aku takut akan dibuat jatuh. Karena pernah sekali atau beberapa kali mungkin? Aku menceritakan mimpiku ke seseorang yang kuanggap dia bisa membuatku semangat merealisasikan mimpiku atau setidaknya dia bisa menjadi pendengar yang baik. Tapi nyatanya aku salah. Entah mimpiku yang terlalu aneh atau bagaimana, aku dianggap terlalu berkhayal. Dan itu membuatku jatuh sejatuh jatuhnya. Aku jadi sering berfikir apakah aku memang terlalu berkhahyal? Tapi menurutku itu hal yang normal. Semua orang pasti pernah berkhayal, right? Atau mungkin khayalanku terlalu tinggi? Hm, entahlah. Intinya sejak saat itu aku merasa enggan untuk menceritakan mimpiku. 


Sampai ketika aku merasa diriku sedang dalam titik terendah. Aku merasa semua mimpiku ini tak akan pernah terealisasikan. Aku merasa mimpiku itu hanya akan menjadi sebuah mimpi. Tak akan pernah menjadi nyata. Tapi ternyata Allah masih menyayangiku. Allah mengingatkanku, memberiku petunjuk lewat sebuah postingan seorang influencer. Postingan yang membuatku sadar, aku masih punya Allah yang tidak akan pernah memprotes ketika mendengar mimpiku yang mungkin terlalu tinggi.

Mimpi bukan lagi menjadi hal asing di kalangan warga bumi. Mungkin hampir sebagian besar warga bumi suka sekali bermimpi. Tak apa, itu wajar. Tapi yang tak wajar itu ketika kamu memiliki mimpi dan harapan besar tanpa mau mewujudkannya agar menjadi kenyataan.

Ada sebagian orang menganggap bermimpi itu sia-sia, membuang waktu katanya, lebih baik kerja nyata. Tapi bagiku, mimpi adalah langkah awal untuk menentukan kemana diri ini akan melangkah.

 “ Hingga pada akhirnya, Allahlah satu-satunya yang mendengar impian ini dibisikkan dgn lirih melalui doa doa yg panjang. Karena hanya Tuhan kita yg tidak pernah memprotes segala impian yg berusaha kita rajut, yg selalu memberikan jawaban-Nya atas kegelisahan kita untuk berusaha dan tidak menyerah begitu saja.” – NadhiraArini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

It is ok

 Hai, It's been a long time, right? Umm, im kinda feel sad tonight.  So this letter is from me to myself, but don't worry, this letter is for you too. I really want to write some sad quotes, but, nah i don't think it's a good idea. But, let me see.. Oke, im gonna start now.   How are you? How's your feelings? Are you ok? It's a simple question, i know. But, can you give me the answer? Can you give me the real answer? Do not fake your answer. Hmm, i know. If you feel you're not, it's ok. Cause, me too. Someone said it is ok to not be ok, so yeah i guess it is fine.  I posted 3 twit on my twitter today. I think it is fine to write about my feelings on my twitter, but then.. 5 mins later i deleted it. I don't know.. i just feel uncomfortable to share it. Although, i really want to share it, but i can't. Or maybe all i want is not to share what i've been through? Maybe I just want a hug? Yeah, I admited. I need a hug, i need someone to stay, to s...

I know you need that

"Apa yang paling kamu inginkan di dunia ini, Le?" "Hidup tenang, mungkin?" Rian berdecak mendengar jawaban teman kecilnya yang sarat akan keraguan. "Hei, yang benar saja. Mengapa jawabanmu terlihat sangat tidak meyakinkan?!" Alea mengambil napasnya sejenak sebelum kembali menjawab ucapan Rian. "Rian, Aku sendiri pun sebenarnya tidak benar-benar tahu apa yang paling aku inginkan di dunia ini." Kali ini Rian kembali berdecak mendengar jawaban Alea, sungguh menghadapi Alea yang seperti ini sangat tidak menyenangkan, tapi ini juga berawal dari dirinya bukan? Seharusnya Rian tahu mencari jawaban dari pertanyaan yang pria itu lontarkan tidaklah mudah.  "Rian, apa kamu memiliki hal itu?", Alea memecah sunyi yang sempat terjadi beberapa saat. "Hal itu, apa? Hal yang paling aku inginkan maksudmu?", Rian kembali menjawab pertanyaan Alea dengan pertanyaan kembali hingga membuat wanita itu sewot, "Tentu saja, lalu apa lagi? Bukankah ...