Langsung ke konten utama

I know you need that

"Apa yang paling kamu inginkan di dunia ini, Le?"

"Hidup tenang, mungkin?"

Rian berdecak mendengar jawaban teman kecilnya yang sarat akan keraguan.

"Hei, yang benar saja. Mengapa jawabanmu terlihat sangat tidak meyakinkan?!"

Alea mengambil napasnya sejenak sebelum kembali menjawab ucapan Rian. "Rian, Aku sendiri pun sebenarnya tidak benar-benar tahu apa yang paling aku inginkan di dunia ini."

Kali ini Rian kembali berdecak mendengar jawaban Alea, sungguh menghadapi Alea yang seperti ini sangat tidak menyenangkan, tapi ini juga berawal dari dirinya bukan? Seharusnya Rian tahu mencari jawaban dari pertanyaan yang pria itu lontarkan tidaklah mudah. 

"Rian, apa kamu memiliki hal itu?", Alea memecah sunyi yang sempat terjadi beberapa saat.

"Hal itu, apa? Hal yang paling aku inginkan maksudmu?", Rian kembali menjawab pertanyaan Alea dengan pertanyaan kembali hingga membuat wanita itu sewot, "Tentu saja, lalu apa lagi? Bukankah baru saja kita membahas tentang itu?!"

"Hei, calmdown girl. Lagipula pertanyaanmu terdengar ambigu," Rian berhenti sejenak untuk melihat reaksi teman kecilnya. Jujur saja, melihat Alea yang mengeluarkan emosinya membuat Rian senang dan lega sekaligus. 

"Hentikan itu sebelum kamu makin berbicara melantur, jawab pertanyaanku sekarang!", Alea makin sewot mendengar jawaban Rian. Oh tentu saja Alea tahu pria itu sedang memancing emosinya. 

Rian tertawa mendengar ucapan Alea, ah sepertinya dia berhasil memancing emosi wanita itu hari ini. 

"Oke, baik jika itu yang kamu inginkan," Rian menjeda kalimatnya sejenak, kemudian memejamkan matanya sambil berusaha menemukan hal itu. 

Alea yang melihatnya, hanya tersenyum tipis. 

"Ah, sepertinya ini akan sulit."

"Kamu tahu, Le? Salah satu hal yang sangat aku inginkan di dunia ini adalah melihatmu melepas semua yang membebanimu, kamu yang  membiarkanku ikut untuk membantumu melewati masa itu, menjadikanku, setidaknya, sebagai orang yang kamu percaya untuk membagi keluh kesahmu," Rian mengatakannya sambil menatap dalam mata Alea, berusaha meyakinkan wanita itu jika apa yang baru saja terucap dari mulutnya adalah hal sangat dia inginkan.

Alea mengerjapkan matanya. Jujur saja, dirinya terkejut mendengar ucapan pria itu, ditambah bagaimana cara pria itu, Rian, menatap matanya membuat dirinya merasa.. ah bahkan dirinya tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini.

"Rian.. aku tidak tahu harus bicara apa..," ah, bahkan saat ini dirinya tidak mampu berbicara dengan baik, bibirnya bergetar kala mengucapkan kalimat itu.

Rian tersenyum tipis, "Alea, kamu tidak perlu bicara apapun saat ini jika memang ini mengejutkanmu. Aku tahu apa yang saat ini kamu butuhkan," sebelum melanjutkan ucapannya, Rian menjulurkan tangannya pada Alea, "Do you want a cup of hot coffee? I know you need that right now,"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

It is ok

 Hai, It's been a long time, right? Umm, im kinda feel sad tonight.  So this letter is from me to myself, but don't worry, this letter is for you too. I really want to write some sad quotes, but, nah i don't think it's a good idea. But, let me see.. Oke, im gonna start now.   How are you? How's your feelings? Are you ok? It's a simple question, i know. But, can you give me the answer? Can you give me the real answer? Do not fake your answer. Hmm, i know. If you feel you're not, it's ok. Cause, me too. Someone said it is ok to not be ok, so yeah i guess it is fine.  I posted 3 twit on my twitter today. I think it is fine to write about my feelings on my twitter, but then.. 5 mins later i deleted it. I don't know.. i just feel uncomfortable to share it. Although, i really want to share it, but i can't. Or maybe all i want is not to share what i've been through? Maybe I just want a hug? Yeah, I admited. I need a hug, i need someone to stay, to s...

Big Dreamer?

Yes, I’m a big dreamer. Aku adalah seseorang yang sangat suka bermimpi, mengkhayal,dll. Ada di saat saat tertentu rasanya ingin sekali berbagi cerita tentang mimpiku ini, tapi aku takut akan dibuat jatuh. Karena pernah sekali atau beberapa kali mungkin? Aku menceritakan mimpiku ke seseorang yang kuanggap dia bisa membuatku semangat merealisasikan mimpiku atau setidaknya dia bisa menjadi pendengar yang baik. Tapi nyatanya aku salah. Entah mimpiku yang terlalu aneh atau bagaimana, aku dianggap terlalu berkhayal. Dan itu membuatku jatuh sejatuh jatuhnya. Aku jadi sering berfikir apakah aku memang terlalu berkhahyal? Tapi menurutku itu hal yang normal. Semua orang pasti pernah berkhayal, right? Atau mungkin khayalanku terlalu tinggi? Hm, entahlah. Intinya sejak saat itu aku merasa enggan untuk menceritakan mimpiku.  Sampai ketika aku merasa diriku sedang dalam titik terendah. Aku merasa semua mimpiku ini tak akan pernah terealisasikan. Aku merasa mimpiku itu hanya akan menjadi ...