"Apa yang paling kamu inginkan di dunia ini, Le?"
"Hidup tenang, mungkin?"
Rian berdecak mendengar jawaban teman kecilnya yang sarat akan keraguan.
"Hei, yang benar saja. Mengapa jawabanmu terlihat sangat tidak meyakinkan?!"
Alea mengambil napasnya sejenak sebelum kembali menjawab ucapan Rian. "Rian, Aku sendiri pun sebenarnya tidak benar-benar tahu apa yang paling aku inginkan di dunia ini."
Kali ini Rian kembali berdecak mendengar jawaban Alea, sungguh menghadapi Alea yang seperti ini sangat tidak menyenangkan, tapi ini juga berawal dari dirinya bukan? Seharusnya Rian tahu mencari jawaban dari pertanyaan yang pria itu lontarkan tidaklah mudah.
"Rian, apa kamu memiliki hal itu?", Alea memecah sunyi yang sempat terjadi beberapa saat.
"Hal itu, apa? Hal yang paling aku inginkan maksudmu?", Rian kembali menjawab pertanyaan Alea dengan pertanyaan kembali hingga membuat wanita itu sewot, "Tentu saja, lalu apa lagi? Bukankah baru saja kita membahas tentang itu?!"
"Hei, calmdown girl. Lagipula pertanyaanmu terdengar ambigu," Rian berhenti sejenak untuk melihat reaksi teman kecilnya. Jujur saja, melihat Alea yang mengeluarkan emosinya membuat Rian senang dan lega sekaligus.
"Hentikan itu sebelum kamu makin berbicara melantur, jawab pertanyaanku sekarang!", Alea makin sewot mendengar jawaban Rian. Oh tentu saja Alea tahu pria itu sedang memancing emosinya.
Rian tertawa mendengar ucapan Alea, ah sepertinya dia berhasil memancing emosi wanita itu hari ini.
"Oke, baik jika itu yang kamu inginkan," Rian menjeda kalimatnya sejenak, kemudian memejamkan matanya sambil berusaha menemukan hal itu.
Alea yang melihatnya, hanya tersenyum tipis.
"Ah, sepertinya ini akan sulit."
"Kamu tahu, Le? Salah satu hal yang sangat aku inginkan di dunia ini adalah melihatmu melepas semua yang membebanimu, kamu yang membiarkanku ikut untuk membantumu melewati masa itu, menjadikanku, setidaknya, sebagai orang yang kamu percaya untuk membagi keluh kesahmu," Rian mengatakannya sambil menatap dalam mata Alea, berusaha meyakinkan wanita itu jika apa yang baru saja terucap dari mulutnya adalah hal sangat dia inginkan.
Alea mengerjapkan matanya. Jujur saja, dirinya terkejut mendengar ucapan pria itu, ditambah bagaimana cara pria itu, Rian, menatap matanya membuat dirinya merasa.. ah bahkan dirinya tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini.
"Rian.. aku tidak tahu harus bicara apa..," ah, bahkan saat ini dirinya tidak mampu berbicara dengan baik, bibirnya bergetar kala mengucapkan kalimat itu.
Rian tersenyum tipis, "Alea, kamu tidak perlu bicara apapun saat ini jika memang ini mengejutkanmu. Aku tahu apa yang saat ini kamu butuhkan," sebelum melanjutkan ucapannya, Rian menjulurkan tangannya pada Alea, "Do you want a cup of hot coffee? I know you need that right now,"
Komentar
Posting Komentar