Assalamualaikum wr.wb.
Mungkin banyak yang belum tau ya tentang saya, karena ini blog pertama saya hehe.
Kalo baca dari judul nya pasti udah tau kan kalo saya ini 'pernah' jadi K-Popers. Yap, saya memang pernah suka K-Pop sejak pertengahan tahun 2017. Saya ingat waktu itu banyak teman-teman saya yang sering ngomongin tentang boygrup asal Korea yang sedang mengadakan konser di Indonesia. Awalnya saya diam saja, namun entah mengapa semakin hari saya semakin penasaran tentang boygrup yang sedang dibicarakan teman-teman saya, hingga saya memutuskan untuk mencari tau di internet.
First impression saya ketika melihat wajah para member dari boygrup asal Korea ini, saya biasa aja. Bahkan saya kurang suka, karena wajahnya yang agak kemayu. Tapi saya tetap mencari tahu tentang 'mereka', hingga saya menghabiskan waktu saya dengan mencari tau boygrup asal Korea ini, semakin lama timbulah perasaan kagum dengan salah satu boygrup yang sering saya cari ini.
Sejak saya mulai merasa kagum dengan 'mereka',saya mulai mencari tahu lebih dalam anggota 'mereka', saya mulai menonton MVnya, saya sering mendengarkan lagunya, saya sering mencari tau tentang kegiatannya. Sampai pada akhirnya, saya mendeklarasikan diri saya sebagai fans dari 'mereka'.
Awalnya saya menikmati semuanya, saya menyukai apa yang 'mereka' lakukan, saya menjadikan 'mereka' sebagai penyemangat saya, saya bangga ketika 'mereka' mendapatkan penghargaan, saya suka melihat 'mereka' tersenyum, dan masih banyak lagi hal yang suka dari 'mereka'.
Hingga satu tahun sudah saya menjadi K-Popers.Saat itu, saya merasa bangga terhadap diri saya sendiri yang sudah menjadi K-Popers selama satu tahun.
Namun entah mengapa, akhir tahun 2018 saya merasa aneh dengan diri saya sendiri. Saya merasa resah dan hati saya selalu tidak tenang. Dan saya bingung ketika melihat banyaknya postingan dari akun instagram tentang hijrah dari K-Pop di TL instagram saya yang padahal saya tidak pernah memfollow akun tersebut. Awalnya saya biasa saja, saya abaikan semua postingan tersebut. Sampai pada akhirnya saya tertarik untuk stalking akun instagram @rifkhaauliafaz setelah melihat salah satu instastory teman saya yang membagikan beliau yang hijrah dari K-Pop.
Saya mulai stalk akun beliau, saya mulai membaca kronologi cerita bagaimana beliau hijrah dari K-Pop dan saya merasa tertohok ketika saya membaca kata-katanya. Jujur, saya nangis saat membacanya (terlihat lebay, but that's the fact). Saya masih ingat kata-katanya "Ia memperlakukanku seolah Ia hanya memiliki satu hamba. Sedangkan aku memperlakukanNya seolah aku memiliki ribuan Tuhan."
Setelah selesai membaca ceritanya, saya sadar bahwa hal yang membuat saya resah dan tidak tenang selama ini adalah karena saya merasa jauh dari-Nya. Saya sudah membuang banyak waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Dunia K-Pop yang saya kira sumber kebahagiaan saya, nyatanya tidak. Bahagia yang saya rasakan ini nyatanya hanya sementara. Saya telah membuang banyak kesempatan saya untuk hal yang sia-sia. Saya mulai mengingat kembali apa yang telah saya lakukan. Saya lebih banyak menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton drama mereka dibanding untuk beribadah. Saya lebih sering mendengarkan lagu-lagu mereka dibanding mendengar murottal Al-Qur'an. Saya lebih sering menyanyikan lagu mereka dibanding membaca Al-Qur'an. Dan masih banyak lagi hal sia-sia yang telah saya lakukan. Saya menyesal.
Hingga awal tahun 2019 saya memutuskan untuk berhijrah dari K-Pop. Saya mulai unfollow instagram mereka, mulai unsubscribe akun youtube mereka, dan sayapun mulai banyak memfollow akun-akun hijrah K-Pop. Awalnya memang sulit meninggalkan 'mereka'. Namun saya bertekad kuat untuk meninggalkan suatu hal yang sia-sia. Saya tak mau membuang waktu saya untuk hal yang sia-sia. Saya takut ketika ajal sudah menjemput, saya tak punya bekal untuk dunia akhirat nanti.
Kawan, saya buat cerita ini bukan bermaksud negatif. Saya hanya sekedar mengingatkan saja bahwa dunia ini fana. Hanya sementara. Jika kita menghabiskan waktu kita untuk bersenang-senang, lantas apa yang mau kita bawa nanti untuk di akhirat?
Sayapun masih dalam proses hijrah, masih banyak yang perlu diperbaiki. Doakan semoga saya istiqomah yaa. Oh iya, saya pernah baca kata-kata dari Taqy Malik "Hidayah itu dijemput bukan ditunggu."
Sebagai penutup, saya minta maaf kalau kata-kata saya yang menyinggung atau bahasa saya yang kurang dipahami. Manusia tak luput dari kesalahan. Hehe. Sekali lagi tolong dimaafkan, bila perlu ingatkan saya ya kawan. Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca. Semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum wr.wb.
Mungkin banyak yang belum tau ya tentang saya, karena ini blog pertama saya hehe.
Kalo baca dari judul nya pasti udah tau kan kalo saya ini 'pernah' jadi K-Popers. Yap, saya memang pernah suka K-Pop sejak pertengahan tahun 2017. Saya ingat waktu itu banyak teman-teman saya yang sering ngomongin tentang boygrup asal Korea yang sedang mengadakan konser di Indonesia. Awalnya saya diam saja, namun entah mengapa semakin hari saya semakin penasaran tentang boygrup yang sedang dibicarakan teman-teman saya, hingga saya memutuskan untuk mencari tau di internet.
First impression saya ketika melihat wajah para member dari boygrup asal Korea ini, saya biasa aja. Bahkan saya kurang suka, karena wajahnya yang agak kemayu. Tapi saya tetap mencari tahu tentang 'mereka', hingga saya menghabiskan waktu saya dengan mencari tau boygrup asal Korea ini, semakin lama timbulah perasaan kagum dengan salah satu boygrup yang sering saya cari ini.
Sejak saya mulai merasa kagum dengan 'mereka',saya mulai mencari tahu lebih dalam anggota 'mereka', saya mulai menonton MVnya, saya sering mendengarkan lagunya, saya sering mencari tau tentang kegiatannya. Sampai pada akhirnya, saya mendeklarasikan diri saya sebagai fans dari 'mereka'.
Awalnya saya menikmati semuanya, saya menyukai apa yang 'mereka' lakukan, saya menjadikan 'mereka' sebagai penyemangat saya, saya bangga ketika 'mereka' mendapatkan penghargaan, saya suka melihat 'mereka' tersenyum, dan masih banyak lagi hal yang suka dari 'mereka'.
Hingga satu tahun sudah saya menjadi K-Popers.Saat itu, saya merasa bangga terhadap diri saya sendiri yang sudah menjadi K-Popers selama satu tahun.
Namun entah mengapa, akhir tahun 2018 saya merasa aneh dengan diri saya sendiri. Saya merasa resah dan hati saya selalu tidak tenang. Dan saya bingung ketika melihat banyaknya postingan dari akun instagram tentang hijrah dari K-Pop di TL instagram saya yang padahal saya tidak pernah memfollow akun tersebut. Awalnya saya biasa saja, saya abaikan semua postingan tersebut. Sampai pada akhirnya saya tertarik untuk stalking akun instagram @rifkhaauliafaz setelah melihat salah satu instastory teman saya yang membagikan beliau yang hijrah dari K-Pop.
Saya mulai stalk akun beliau, saya mulai membaca kronologi cerita bagaimana beliau hijrah dari K-Pop dan saya merasa tertohok ketika saya membaca kata-katanya. Jujur, saya nangis saat membacanya (terlihat lebay, but that's the fact). Saya masih ingat kata-katanya "Ia memperlakukanku seolah Ia hanya memiliki satu hamba. Sedangkan aku memperlakukanNya seolah aku memiliki ribuan Tuhan."
Setelah selesai membaca ceritanya, saya sadar bahwa hal yang membuat saya resah dan tidak tenang selama ini adalah karena saya merasa jauh dari-Nya. Saya sudah membuang banyak waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Dunia K-Pop yang saya kira sumber kebahagiaan saya, nyatanya tidak. Bahagia yang saya rasakan ini nyatanya hanya sementara. Saya telah membuang banyak kesempatan saya untuk hal yang sia-sia. Saya mulai mengingat kembali apa yang telah saya lakukan. Saya lebih banyak menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton drama mereka dibanding untuk beribadah. Saya lebih sering mendengarkan lagu-lagu mereka dibanding mendengar murottal Al-Qur'an. Saya lebih sering menyanyikan lagu mereka dibanding membaca Al-Qur'an. Dan masih banyak lagi hal sia-sia yang telah saya lakukan. Saya menyesal.
Hingga awal tahun 2019 saya memutuskan untuk berhijrah dari K-Pop. Saya mulai unfollow instagram mereka, mulai unsubscribe akun youtube mereka, dan sayapun mulai banyak memfollow akun-akun hijrah K-Pop. Awalnya memang sulit meninggalkan 'mereka'. Namun saya bertekad kuat untuk meninggalkan suatu hal yang sia-sia. Saya tak mau membuang waktu saya untuk hal yang sia-sia. Saya takut ketika ajal sudah menjemput, saya tak punya bekal untuk dunia akhirat nanti.
Kawan, saya buat cerita ini bukan bermaksud negatif. Saya hanya sekedar mengingatkan saja bahwa dunia ini fana. Hanya sementara. Jika kita menghabiskan waktu kita untuk bersenang-senang, lantas apa yang mau kita bawa nanti untuk di akhirat?
Sayapun masih dalam proses hijrah, masih banyak yang perlu diperbaiki. Doakan semoga saya istiqomah yaa. Oh iya, saya pernah baca kata-kata dari Taqy Malik "Hidayah itu dijemput bukan ditunggu."
Sebagai penutup, saya minta maaf kalau kata-kata saya yang menyinggung atau bahasa saya yang kurang dipahami. Manusia tak luput dari kesalahan. Hehe. Sekali lagi tolong dimaafkan, bila perlu ingatkan saya ya kawan. Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca. Semoga bermanfaat.
Wassalamualaikum wr.wb.
Masya allah,semoga istiqomah��
BalasHapusAamiin
HapusSangat bermanfaat:)
BalasHapusSangat mengispirasi saya, terimakasih😊
BalasHapusMasyaallah, sangat bermanfaat
BalasHapusJazakillahu Khairan��